Friday, November 19, 2010

John Lennon atau Paul McCartney?

Setelah band mereka bubar, John Lennon dan Paul McCartney membuat aksi masing-masing yang bukan hanya sedap untuk didengarkan, namun juga dijadikan “mainan” oleh pecinta The Beatles dan media sebagai sesuatu yang arahnya menjadi alotnya versus. “Pilih John atau Paul?” Itulah pertanyaan dengan tingkat kelestarian yang membuntuti abadinya karya-karya kolaborasi mereka.

Dalam “permainan” ini, meski dia masih hidup, Paul seringkali dianggap tidak memiliki senjata selengkap John. Dimulai dari yang sangat permukaan, benda fashion apa yang dikenakan Paul yang bisa menandingi sepucuk kaca mata lensa bulat?

Ini juga permukaan (namun kita tak bisa lepas dari pop), nama siapa yang lebih enak dan mudah diucapkan dan ditulis, Paul McCartney atau John Lennon? Walau secara grafis, menulis sambung nama Paul McCartney bisa jadi elegan dan “mahal”. Tapi kelompok humor Warung Kopi pernah melawak menyebut nama Jonte Lenonte.

Sekarang ke sampul album. Katalog rilisan Paul tentu lebih banyak dari John, tapi visual sampul rekaman apa yang paling diingat dunia? Lagipula, siapa yang pernah bugil di sana?

Beralih ke nama pasangan. Yoko Ono pasti bukan nama tukang ojek yang tidak popular. Siapa istri Paul? Sebentar, googling dulu. Oh ya, namanya Linda!

Tentang isu atau kampanye personal, Paul bicara apa? Apakah di ranjangnya?

Mari kita lihat sesuatu yang bernada: lagu. Tiga puluh tahun lalu John ditembak, dia tidak sempat ngeles, karena itu wafat. Paul McCartney masih hidup hingga kini. Kondisi tubuhnya sepertinya masih sehat. Jadi, sepantasnya katalog lagu Paul jauh lebih banyak dari John - kecuali Lennon rajin menulis lagu di alam baka. Dan Paul punya kesempatan untuk tampil atau menulis lagu bersama musisi-musisi besar- dari era apa pun- sejak The Beatles bercerai hingga kini, karena Paul hidup dan seorang legenda.

Bila bersikap netral, sulit untuk menentukan apakah lagu John atau Paul yang lebih baik, apalagi kalau barometernya berhenti di notasi. Dari karakter vokal, relatif untuk mengadunya. Tapi kita semua tahu bahwa ada rasa tertentu milik John yang membuat lagu-lagunya bukan hanya bagus, namun tersendiri.

Ini tentang energi konseptualnya, walau dalam bentuk pop, folk, rock, R&B, hingga avant garde. Dan bila bertemu lirik, semua jadi terasa jelas. Tentang siapa diantara mereka yang ahli meracau ke arah filosofis dengan untaian kalimat yang bersepatu ABRI - selembut apa pun bisikannya.

Misalnya pada “Love”: love is real, real is love.

Atau pada “God”: I don’t believe in Beatles

Tapi, cuma satu lirik lagu yang dibutuhkan John untuk membungkus segala tulisannya yang terdahulu: “Imagine”

Ajakan membayangkan yang diulang-ulang pada beragam hal dengan satu topik dan maksud besar, itu ibarat topping menggiurkan bagi segala hidangan John selama ini - sendiri maupun bersama The Beatles. Perdamaian telak menjadi seni. Pelatuk John adalah kenyataan yang ada pada kepalanya. Sementara bagi penikmat karyanya, di antara kesibukan sehari-hari, siapa tahu boleh berimajinasi…

Bayangkan John Lennon lahir di Tuban, Jawa Timur sementara Tony Koeswoyo di Liverpool.

Bayangkan Indonesiana Invasion melanda dunia pada 1960-an, apakah The Beatles di Inggris dilarang main musik “ngak-ngek-ngok” oleh ratunya?

Bayangkan album-album The Beatles sulit dicetak ulang karena masternya hilang atau sudah ditiban oleh rekaman solois semok.

Bayangkan John Lennon bintang Nusantara, terkena kasus narkoba, dan mendekam di infotainment.

Bayangkan usaha mengharmoniskan hubungan John dengan media massa masa kini, demi menambah nafkahnya.

Bayangkan John Lennon tanpa royalti.

Bayangkan John Lennon menabung untuk beli CD impor.

Bayangkan John Lennon banting stir dagang bubur ayam.

Bayangkan John Lennon kabur dari kantornya untuk manggung.

Bayangkan John Lennon masih hidup di saat Michael Jackson sangat tenar.

Bayangkan John Lennon adalah pengarang singkatan “siskamling”.

.Bayangkan John Lennon sengaja menulis lagu untuk RBT.

Bayangkan John Lennon memikirkan tweet berikutnya.

Bayangkan John Lennon terus-menerus me-remake “Imagine”, atas saran label-nya, dengan harapan karirnya panjang umur serta mulia.

2 comments: